Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur, dan Rajin

Khotbah Sekolah Minggu

Go…Go…Go


Khotbah Sekolah Minggu 1 November 2009 (Martianus)

Baca: Yesaya 6:1-8

Hari ini kita akan belajar tiga prinsip “Go” dalam hidup nabi Yesaya.

1) ayat 1 “… aku melihat Tuhan…”

Go yang pertama adalah hidup kita setiap hari harus melihat Tuhan — Go-Up

2) ayat 5, “… Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir …”

Go yang ketiga adalah melihat kepada hati kita, apakah hidup kita sudah benar di hadapan Allah — Go-In

3) ayat 8, “…Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”

Go yang ketiga adalah pergi melihat jiwa dan memberitakan Injil keselamatan — Go-Out

 


Apa isi hatimu?


Khotbah Sekolah Minggu 25 Oktober 2009 (Martianus)

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23)

Bagaimana menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan? Apakah yang seharusnya ada di dalam hati kita? Alasan yang paling utama mengapa kita harus menjaga hati adalah karena Allah melihat dan menguji hati kita (Mazmur 7:10)

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau (Mazmur 119:11)

Janji dan Firman Tuhan kita ambil dari dalam Alkitab, dan dimasukkan ke dalam hati.

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amsal 17:22)

Kesedihan, kegelisahan, kekuatiran diambil dari hati dan dibuang! Diganti dengan kegembiraan dan sukacita yang dimasukkan ke hati.

Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat (Yehezkiel 11:19)

Hati yang lama — hati yang keras diambil dari dalam hidup kita dan dibuang! Diganti dengan hati yang baru — hati yang taat.


Keselamatan bagi manusia


Khotbah Sekolah Minggu 18 Oktober 2009 (Maretha)

Yohanes 3:16

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal

Ada yang dikorbankan oleh Allah supaya manusia mendapat keselamatan, dan ini bukanlah korban yang murah. Allah harus merelakan Anak-Nya sendiri dikorbankan bagi manusia.

Allah Bapa mengasihi Anak — Yesus Kristus, itu adalah hal yang pasti. Tetapi lihat keistimewaan Anda dan saya, kasih Bapa kepada Anda dan saya “mengalahkan” kasih-Nya kepada Anak-Nya sendiri, Yesus Kristus. Sama halnya, ketika Kristus Yesus tergantung di kayu salib itu, kasih-Nya kepada kita mengalahkan segala-galanya.

Tidak maukah Anda membalasakan kasih-Nya yang begitu besar itu?


Utamakan Tuhan, maka Tuhan akan mengutamakan engkau


Khotbah Sekolah Minggu 11 Oktober 2009 (Galuh)

Baca : 2 Raja-raja 4:8-37

8  Di Sunem tinggal seorang wanita kaya. Pada suatu hari ketika Elisa pergi ke Sunem, wanita itu mengundangnya makan. Sejak itu setiap kali Elisa mampir di Sunem ia makan di rumah wanita itu.
9  Kemudian berkatalah wanita itu kepada suaminya, “Saya yakin bapak yang sering mampir di sini itu sungguh-sungguh seorang hamba Allah.
10  Baiklah kita membuat sebuah kamar yang kecil di tingkat atas rumah kita, dan melengkapinya dengan tempat tidur, meja, kursi, dan lampu supaya ia dapat menginap di situ setiap kali ia mengunjungi kita.”
11  Pada suatu hari Elisa datang lagi ke Sunem. Setelah ia naik ke kamarnya untuk beristirahat,
12  ia menyuruh Gehazi, pelayannya, pergi memanggil wanita itu. Setelah wanita itu datang,
13  kata Elisa kepada Gehazi, “Tanyakan kepadanya bagaimana saya dapat membalas jerih payahnya untuk kita. Barangkali ia ingin saya pergi kepada raja atau kepada panglima angkatan bersenjata dan berbicara untuk kepentingannya.” Wanita itu menjawab, “Saya tinggal di antara kaum keluarga saya dan tidak kekurangan apa-apa.”
(more…)


Kisah Tentang Negara “Sak-sak-ku”!


Khotbah Sekolah Minggu 27 September 2009 (Martianus)

Sekali waktu ada banyak orang kaya di seluruh dunia sedang berkumpul bersama-sama. Mereka semua sepakata untuk membeli sebuah pulau dan mendirikan sebuah negara baru.

Kemudian mereka berpikir bersama-sama untuk menentukan siapa pemimpin negara tersebut, bagaimana pemerintahannya, bagaimana undang-undangnya dan lain-lain. Tetapi salah seorang kemudian berteriak,

“Hai, mending kita bikin dulu nama negara kita. Nama itu akan menjadi dasar dan simbol apa yang akan dikerjakan oleh negara baru kita ini!”. (more…)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.