Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur, dan Rajin

Apa Yang Terjadi Jika Kita Salah Mengenali Ibadah Yang Sejati


Khotbah Gereja Pemuda 5 September 2009 (Martianus)

Roma 11:25-12:2

Fokus kita ada pada pasal 12:1. Tetapi dari apa yang kita baca tadi, kita bisa melihat bagaimana pentingnya mengenali ibadah yang sejati. Karena itu saya melompati semua topik, dan menuju ke bagian apa yang saya sebut sebagai “Apa Yang Terjadi Jika Kita Salah Mengenali Ibadah Yang Sejati”. Saya menyerahkan kepada pengkhotbah-pengkhotbah berikutnya untuk bertanggung jawab memberitahu kita tentang apa itu ibadah yang sejati, bagaimana itu ibadah yang sejati, apa saja berkat ibadah yang sejati. Tetapi saya akan menuju langsung ke bagian paling belakang dari tema ini.

Mengapa demikian? Ibadah kita berkenaan dengan anugerah keselamatan yang kita terima, berkenaan dengan kemurahan Allah yang akan kita terima, dan berkenaan dengan apa yang sedang terjadi dalam hidup kita.
Alkitab menunjukkan beberapa contoh kesalahan ibadah yang sejati. Meskipun saya akan menyinggung tentang kesalahan apa saja itu, dan sedikit menyinggung bagaimana ibadah yang benar, tetapi fokus saya adalah apa yang bisa terjadi kepada kita jika kita salah mengenali ibadah yang sejati.

Mari sama-sama kita cermati!

  1. Imamat 10:1-7

    Ada banyak tafsiran mengenai peristiwa ini, mengapa Tuhan sampai menghukum mereka sedemikian.

    Hal ini juga terjadi pada zaman raja-raja, bandingkan dengan Uzia, 2 Tawarikh 26:16-19. Tetapi Uzia hanya mendapat sakit kusta. Mengapa Nadab dan Abihu berbeda. Perhatikan ayat 1, “…Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka”. Mereka berdua tahu pasti apa perintah Tuhan berkenaan dengan ibadah di Tabernakel. Mereka adalah imam, mereka adalah pelayan. Hati-hati para pelayan. Implikasi dari tindakan mereka sangat besar, mereka tidak menghormati kekudusan Tuhan, mereka melanggar aturan kudus dari Allah sendiri.

    Kalau Anda bilang kematian hukumannya, Anda salah besar. Nama mereka berdua dihapuskan selamanya dari muka bumi dan jabatan keimaman mereka hilang (Bilangan 3:4; 1 Tawarikh 24:2).

  2. 1 Samuel 13:1-22

    Lagi, alasannya jelas ditunjukkan Alkitab di ayat 13, “”Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu”. Apa salah Saul? Dia bodoh!

    Kebodohan kita mengenali ibadah yang sejati membuat kita tidak mengikuti perintah Tuhan yang diperintahkan Tuhan kepada kita yang seharusnya kita ikuti. Pada masa itu benar bahwa ini tentang apa yang menjadi tugas raja dan apa yang menjadi tugas imam/nabi. Tetapi di masa Perjanjian Baru, hal ini bukan tentang melakukan yang bukan karunianya, melainkan tentang KETAATAN.

    Apa hukumannya? Sebuah “kerajaan” yang tidak tetap yang dialihkan kepada orang yang lebih berkenan di hati Tuhan.

  3. 1 Samuel 15:1-35

    Sekali lagi Saul menjadi contoh yang tidak baik. Kuncinya ada di ayat 22-23, “”Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.”

    Ibadah sejati bukan tentang apa yang kita pikirkan tentang ibadah sejati, tetapi tentang apa yang Allah perintahkan sebagai ibadah yang sejati. Saul mengatakan di ayat 13, “…aku telah melaksanakan firman TUHAN”. Sekali lagi bukan tentang apa yang Anda pikirkan, tetapi apa yang Allah perintahkan.

    Akibatnya? Ayat 23,26 “Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja”. Ditolaknya ibadah kita di hadapan Allah. Bandingkan waktu hari terakhir di mana Tuhan menolak orang yang bernubuat, mengusir setan, mengadakan mujizat (Matius 7:21-23).

  4. 2 Samuel 6:1-11

    Kesalahan Uza tidak akan kita bahas, karena memiliki kemiripan dengan kasusnya Nadab dan Abihu. Yang akan kita lihat adalah kesalahan Daud. Sekali lagi Alkitab menunjukkan bukan dengan cara manusia, tetapi dengan cara Allah. Rasanya sepele mungkin, apa bedanya ditarik sapi dengan kereta dan diangkat oleh para Lewi. Tetapi itulah hukum-Nya Allah.

    Apa akibatnya bagi Daud? Ayat 11-12 memberitahu kita, ada berkat yang dipindahkan.

  5. Yohanes 4:19-26

    Perhatikan ayat 20-21. Perempuan ini berbicara tentang tempat beribadah, itu konteksnya. Saya menarik Anda kepada pengertian ini, perempuan ini sedang membatasi Allah di dalam ibadahnya. Ketidakdewasaan kita, dan mungkin juga ketidaksengajaan kita bisa saja membatasi Allah dalam ibadah kita.

    Akibatnya? Pertama, ayat 25-26, kita menjadi kehilangan gambaran “sepenuhnya” tentang Kristus Yesus. Kedua, ayat 13, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi”

  6. Lukas 10:38-42

    Mengapa ini diletakkan di akhir? Ini rhema khusus dari Sekolah Minggu. Dalam perikop ini apakah yang dilakukan Marta adalah salah? Tidak, kita tidak akan mengatakan siapa yang benar di sini. Saya hanya akan mengutip ayat 42, “tetapi hanya satu saja yang perlu …”.

    Kesalahan Anda mengenali ibadah yang sejati, maka bagian Anda akan diambil daripada Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s