Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur, dan Rajin

Penyembah benar adalah seorang hamba


Khotbah Gereja Pemuda 17 Oktober 2009 (Junaeka)

Baca: Lukas 17:7-10

7  “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
8  Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
9  Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
10  Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Jika seorang penyembah sejati identik dengan seorang hamba, apa pelajaran yang bisa kita tarik dari sana.

Seorang hamba tidak peduli dia ditugaskan di mana, dengan cara apa, mengerjakan apa, dengan alat ataupun tanpa alat. Pendek kata, seorang hamba tidak pernah memikirkan bagaimana dia bekerja, yang dia pikirkan adalah kesenangan Tuannya. Demikian juga seorang penyembah yang benar tidak pernah berpikir apakah dia sedang senang, sedang susah, menyembah dengan gitar, menyembah dengan piano, siapa yang memimpin penyembahan, enak tidaknya musiknya — itu semua tidak ada di hati pemyembah benar — yang dia pikirkan hanyalah apakah aku sudah menjadi penyembah benar yang menyenangkan hati Allah.

Seorang hamba tidak pernah memikirkan penghormatan apa yang dia akan dapatkan, lha wong dia hamba koq mau dapat penghormatan dari mana. Hal yang sama juga berlaku tentang upah, hamba tidak pernah berpikir tentang upah. Pada zaman Alkitab ditulis, jika seseorang menjadi hamba, maka sesungguhnya orang tersebut tidak lagi memiliki hak apapun atas hidupnya, dia sudah menjadi milik tuannya. Demikian juga seorang penyembah adalah milik Allah, semua yang dilakukan penyembah adalah untuk kehormatan Kristus Yesus — ada ataupun tidak ada berkat di sana.

Ayat 10 dari perikop yang kita baca di atas sangat indah menutup renungan ini. Seorang penyembah hanya mengatakan ini: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s