Cinta Tuhan, Rendah Hati, Jujur, dan Rajin

Gembala dan malaikat


Saat Teduh (Rabu, 9 Desember 2009)

Lukas 2:8-16
8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”
13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:
14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”
16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

Di dalam kisah malam Natal kita melihat ada dua gambaran karakter yang sangat kontras terlibat di malam yang suci tersebut. Dua kelompok tokoh ini selalu muncul di dalam drama-drama Natal, mereka adalah para malaikat dan para gembala.

Dua kelompok ini menunjukkan perbedaan yang ekstrem – di dalam pandangan manusia umumnya di masa itu.
1. Malaikat adalah makhluk surgawi, sementara para gembala – di dalam pandangan manusia – adalah yang terendah di antara yang rendah.
2. Malaikat dilingkupi semarak keagungan dan kemuliaan surgawi, sementara para gembala ditutupi oleh debu, tanah liat dan bekerja di tempat yang jauh dari suasana surgawi.
3. Malaikat terbiasa mengalami penyembahan yang penuh dengan hadirat Allah, sementara para gembala lebih banyak disingkirkan di dalam Bait Suci.
4. Malaikat menyanyikan penyembahan mereka dalam kesemarakan dan suara yang keras, sementara para gembala yang miskis, menyembah di dalam kesunyian.

Tetapi di balik semua kontras yang ekstrem di antara malaikat dan para gembala, dalam satu malam terpenting di sejarah umat manusia mereka memiliki kesamaan yang luar biasa. Mereka menyambut kelahiran Sang Raja di dalam ekspresi sukacita yang mengagumkan. Para malaikat menyanyikan pujian yang memecah langit dan bumi, sementara para gembala tidak menunda-nunda menyambut Kristus Yesus, mereka “cepat-cepat berangkat” untuk menyembah Tuhan yang baru lahir.

— Ditulis oleh : Martianus —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s